Tuesday, June 25, 2013

Manusia dan Budaya


  • Manusia sebagai Makhluk yang Berbudaya 


Manusia dikatakan sebagai makhluk yang berbudaya tidak lain adalah makhluk yang senantiasa mendayagunakan akal budinya untuk menciptakan kebahagiaan, karena yang membahagiakan hidup manusia itu hakikatnya sesuatu yang baik, benar dan adil, maka hanya manusia yang selalu berusaha menciptakan kebaikan, kebenaran dan keadilan sajalah yang berhak menyandang gelar manusia berbudaya.
Manusia sangat mempunyai hasrat yang tinggi apabila dibandingkan dengan makhluk hidup yang lain. Hasrat untuk selalu menambah hasil usahanya guna mempermudah lagi perjuangan hidupnya menimbulkan perekonomian dalam lingkungan kerja sama yang teratur. Hasrat disertai rasa keindahan menimbulkan kesenian. Hasrat akan mengatur kedudukannya dalam alam sekitarnya, dalam menghadapai tenaga-tenaga alam yang beraneka ragam bentuknya dan gaib, menimbulkan kepercayaan dan keagamaan. Hasrat manusia yang selalu ingin tahu tentang segala sesuatu disekitarnya menimbulkan ilmu pengetahuan.

  • Kebudayaan adalah Produk Manusia 
    Kebudayaan adalah hasil cipta, karsa dan rasa manusia oleh karenanya kebudayaan mengalami perubahan dan perkembangan sejalan dengan perkembangan manusia itu. Perkembangan tersebut dimaksudkan untuk kepentingan manusia itu sendiri, karena kebudayaan diciptakan oleh dan untuk manusia.

Kebudayaan adalah produk manusia, namun manusia itu sendiri adalah produk kebudayaan. Dengan kta lain, kebudayaan ada karena yang diciptakannya. Kebudayaan akan terus hidup manakala ada manusia sebagai pendukungnya.

Contoh sederhana yang dapat kita lihat adalah hubungan antara manusia dengan peraturan-peraturan kemasyarakatan. Pada saat awalnya peraturan itu dibuat oleh manusia, setelah peraturan itu jadi maka manusia yang membuatnya harus patuh kepada peraturan yang dibuatnya sendiri itu. Dapat disimpulkan bahwa manusia tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan, karena kebudayaan itu bahwa manusia tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan, karena kebudayaan itu merupakan perwujudan dari manusia itu sendiri. Dan kebudayaan dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan, sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia.

  •  Pewarisan Pebudayaan
Pada hakikatnya, kebudayaan adalah warisan sosial. Dalam arti bahwa kebudayaan diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya melalui suatu proses pembelajaran, baik secara formal maupun secara informal. Adapun proses pembelajaran formal itu umumnya dilakukan lewat program-program pendidikan dalam berbagai lembaga pendidikan, seperti sekolah, kursus, akademi, per-guruan tinggi, dan lain-lain tempat pusat pelatihan kerja dan keterampilan. Di sini semua wujud kebudayaan spiritual maupun material yang berupa sistem gagasan, ide- ide, norma-norma, aktivitas-aktivitas berpola, serta berbagai benda hasil karya manusia dikemas dalam mata pelajaran dan kurikulum yang disusun serta diberikan secara sistematik. Sementara itu, proses pembelajaran informal diselenggarakan melalui proses enkulturasi (enculturation) dan sosialisasi(socialization).

Enkulturasi adalah proses penerusan kebudayaan kepada seseorang individu yang dimulai segera setelah dilahirkan, yaitu pada saat kesadaran diri yang bersangkutan mulai tumbuh dan berkembang. Agar kesadaran diri itu dapat berfungsi, seorang individu harus dilengkapi dengan lingkungan sosialnya. Mula-mula ia mengetahui objek-objek di luar dirinya. Obyek ini selalu dipahami menurut nilai kebudayaan di tempat dia dibesarkan.Bersamaan dengan itu, individu tersebut memperoleh orientasi yang bersifat ruang, waktu, dan normatif. Dengan kata lain, dalam proses enkulturasi ini seorang individu mem- pelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikap perilakunya dengan adat istiadat, sistem norma, dan peraturan-peraturan yang ada di dalam kebudayaannya.

Dalam pada itu, dampak enkulturasi terhadap kepribadian ialah bahwa di dalam beberapa kebudayaan, kebiasaan membesarkan dan mengasuh anak dengan cara- cara represif cenderung meningkatkan per- tumbuhan kepribadian yang penurut, sedangkan dalam kebudayaan lain, kebiasaan membesarkan dan mengasuh anak yang permisif tampaknya mempermudah terbentuknya kepribadian yang sebaliknya, yaitu kepri badian yang bebas dan lebih percaya diri.

Adapun pewarisan kebudayaan yang dilakukan melalui proses sosialisasi sangat erat berkaitan dengan proses belajar kebudayaan dalam hubungannya dengan sistem sosial. Dalam proses ini seorang individu mulai dari masa kanak-kanak, masa dewasa, hingga masa tuanya, belajar ber- macam-macam pola tindakan dalam interaksi dengan semua orang di sekitarnya yang menduduki bermacam-macam status dan peranan sosialnya yang ada dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

  •  Globalisasi Budaya Bangsa Indonesia


Globalisasi budaya bagi bangsa Indonesia dampak positif atau negatif sebenarnya tergantung dari sudut pandang yang bagaimana dari bangsa Indonesia itu menilai, jika suatu globalisasi itu dapat berrmanfaat tentunya globaisasi budaya itu dapat berdampak positif namun jika sebaliknya justru akan menjadi dampak negatif bagi bangsa Indonesia itu sendiri.

  • Pengaruh Peradaban Barat di Indonesia 


   Peradaban Barat telah menguasai dunia. Banyak perubahan-perubahan peradaban yang terjadi di penjuru dunia ini, termasuk Indonesia. Indonesia tidak bisa menutup diri dari peradaban barat. Masuknya budaya asing ke suatu negara sebenarnya merupakan hal yang wajar, asalkan budaya tersebut sesuai dengan kepribadian bangsa namun kita harus tetap menjaga agar budaya kita tidak luntur.  Sebagai identitas bangsa, budaya lokal harus terus dijaga keaslian maupun kepemilikannya agar tidak dapat diakui oleh negara lain.



Sumber

No comments:

Post a Comment